Galery Buku / Refrensi HSQ

April 12, 2008

Buku – Buku Kajian Al uran

Dari Perspektif MSFQ dan Psikologi Al Quran

 

Judul

Kayra

Penerbit

Harga

Al Quran 18 Baris musahaf Ustmani

 

 

Rp 50.000

HSQ

Iskandar Mirza & Saiful Bahrie

Adlikir Press

Rp 50.000

Mukhammad *SAW Sang Psikolog

Iskandar Mirza & Saiful

Adlikir Press

Rp 50.000

Menapaki Jejak Kaki Ibrahiem

Lukman Sumistubrata

Adlikir Pres

Rp 50.000

Mengungkap Lailatul Qodar

Lukman Wicaksono

Adlikir Press

Rp 40.000

Kontruksi Al Quran

Gus AA dan Ziyad Tabrani MSQ

Infomedia

Rp 50.000

Tirai Juz

Gus AA dan Ziyad Tabrani MSQ

Infomedia

Rp 75.000

Struktur Insan dalam Al-Qur’an : Apa yang Tersentuh Oleh Psikologi Analitik, Status Kecerdasan Spiritual (SQ)

Zamzam A. Jamaluddin T dan Tri Boedi Hermawan,

 

Yayasan Paramartha

Rp 90.000

Alqur’ân wa `Ilm Alnafs

Muhammad`- Ustmân Najâtiy

Penerbit:DârAlsyurûq Tebal buku : 318 hal

Rp 100.000

Al’idarâk Alhissiy `inda Ibn Sînâ: Bahtsun fî `ilmi Alnafs `inda Al`arab (Persepsi menurut Ibnu Sina: Sebuah Penelitian tentang Psikologi dalam Dunia Arab)

Muhammad `Utsmân Najâtiy. Najâtiy adalah guru besar (‘ustâdz) psikologi di Universitas Cairo

UniversitasCairo

Rp 225.000

Alhadîts Alnabawiy wa `Ilm Nafs (Hadis Nabi dan Psikologi, Beirut, 2001)

Karya-karya ilmuan Muslim klasik

Beirut

Rp 300.000`

 

 

Pengantar Psikologi Al-Qur’an, Dimensi Keilmuan Di balik Mushaf Ustmani’

DR Lukman Wicaksono

Adlikir Press

Rp 70.000

Israel dan Isyarat dalam Kitab Suci Al_Qur’an,

DR Lukman Wicaksono (consultan TNI)

Adlikir Press

Rp 50.000

Pengantar Sanitasi Makanan, Al-Qur’an sebagai Obat dan Penyembuhan Melalui Makanan,

DR Lukman Wicaksono (consultan TNI)

Adlikir Press

Rp 80.000

Fenomonologi Al-Qur’an, Dimensi Keilmuan di Balik Mushaf Usmani.

DR Lukman Wicaksono (consultan TNI

Adlikir Press

Rp 50.000

Spiritualisme Islam dari Perspektif MSFQ

Mochtar Admaja

 

Rp 70.000

Artikel yang berkaitan dengan Psikologi Al Quran dan MSFQ

Gus Aa dan Ziyad Tabrani MSQ

Infomedia

Bundel Buletin Khalifah

Rp 80.000 berisi 10 bundel tabloit

Harga tidak termasik biaya kirim , Hubungi gusiful 02276061708, guiful@ Yahoo.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa Itu MSFQ ?

April 12, 2008

Apa Itu MSFQ / HSQ ?

 

1.      Dasar Pemikiran

 

Banyak para kalangan memahami tentang sejarah kodifikasi AL Quran, mula pertama di bukukan dalam suatu kitab yang disebut manaskrip di zaman ke khalifahan Abu Bakr asidiq Ra atas ide dari umar bin khotob Ra, bahkan yang memprihatinkan adalah perdebatan panjang yang tak kunjung usai sekitar kodifikasi Al Quran pada zaman khalifah Usaman Ra, ada unsur kepentigan kekuasaan / politik dengan salah satu argumentasinya bahwa kenapa usman ra justru membakar semua mshaf-mushaf yang ada dan hanya mensahkan kodifikasi Al Quran dari hasil kerja team panitia yang dibentuk olehnya saja.

 

Jika kita jeli mempelajari histori kodifikasi Al Quran secara lengkap ternyata Al Quran sudah dibukukan sejak zaman Nabi mkhammad SAW sendiri semasa hidupnya, memang belum terkodifikasi sebagimana terkodifikasinya sejak zaman kha;ifah usman Ibnu Affan ra dan bahkan ketegasan nama belum benama Al Quran, akan tetapi masih dalam bentuk   kumpulan kalam Illahi dengan berbagi macam sebutan untuk menamakan wayu Allah itu Al Quran..

 

Disini yang menjadi menarik pada pertanyaan apa bentuknya dan buktinya, kita mencoba kilas balik 1400 tahun yang telah berlalu bagaimana proses turunnnya kalam illahi tersebut.

 

Bahwa pada zaman Nabi Saw Al Quran turun secara acak dan tida berurutan sebagaimana umumnya kita kenal saat ini, 5 ayat,  surat Al Alaq yang pertma kali turun (digua hiro’Bacalah) adalah surat pertama yang kemudian dibukukan disusun dalam kodifikasi Al Quran yang sekarang kenal,   justru pada urutan surat yang ke QS 96, dan Ayat Yauma Akmaltu …. turun terakhir yang kemudian dijadikan insipirasi materi khotbah Rosuul Saw pada sat haji wada’justru ditempatkan di bagian surat Al Maidah yakni urutan  Surat  Al Quran Nomor ke 5.

 

Bagaiamna bentuk Al Quran turun apakah dengan model komunikasi lisan atau tulisan dan pada saat bagaimana ayat –ayat Al Quran ditterima oleh Nabi LLah Saw, ketiga apakah ayat-ayat Al Quran turun sudah terkumpul dalam suatu kesatuan surat dan apa turunnya ayat berurutan dalam suatu surat Al Quran .

 

Pertama,  diriwayatkan suatu ayat Al Quran turun  seperti ada suarra gemuruh,ada sura lonceng ada hembusan angin yang kencang dan peristiwa-peristiwa lain, jadi disini dapat ditark pemahaman bahwa ayat Al Quran turun memlaui model komunikasi Illhiyah yakni antara komunikasi Alllah dan mukhammad Saw saja yang saling memahami dan difahami, yang kemudian ,mukhammad Saw memahami dan kemudian mebahasakan dalam bentuk bahasa lisan agar masyrakat memahami.

Kedua dalam saat apa ayat Al Quran, Ayat Al Quran turun pada saat nabi dalam perjalan,dalam peperangan, sedang duduk dimasji,pada saat nabi jalan, bahkan pada sat nabi sedang bersama istrinya artinya ayat-ayat Al Quran turun dalam berbagai peristiwa aktivitas kehidupan mukhammad Saw. Disini bisa ditarik pemahaman juga bahwa banyak ayat turun kadang hanya berjumlah 1 ayat,2 ayat saja, atau 5 ayat saja,  dimasa kemudian,  ayat kelanjutannya seperti Surat Al Alag yakni awalnya 5 ayat beberapa tahun kemudian 14 ayat berikutnya, demikian juga surat Al maidah ,ayat Yauma akmaltu itu kenmudian terletak dibagian akan akhir surat al maidah.

 

Dari peristiwa turunnya ayat-ayat sebagimana diatas  Prof Dr Suhaya Guru Besar UIN banda Aceh mengatakan a.l “Di dunia jika ada kitab yang turunya tidak sistimatis (acak) itu lah hanya Kitab Al Quran” . Lalu siapa uyang menyusun ayat ini termasuk, dalam surat ini,  dan ayat itu termasuk dalam surat itu, dan dimana kemudian yang mengatur tata letak urutan Nomor Surat.

 

Banyak riwayat yang menyatakan bahwa yang memerintahkan ayat a termasuk dalam bagian surat a, ayat b termasuk bagian suarat b,kemudian surat Al Alaq diletakkan dalam urutan surat yang ke 96, Surat al Fatekhah yang termasuk tergolong surat Al surat Al Madaniyah justru diletakkan dalam urutan yang pertma, padahal jika ditinjau dari masa waktrunya adalah surat yang turun hampir-hampir akhir karena di madinah.

 

Banyak riwayat menyatakan bahwa bilama Rosul menerima Wahyu, se – usainya  malakit jibril kembali ke alamnya adalah Rosulullah Saw selain memanggil para sahabat utamanya untuk menghafal dan juga rosul memanggil para sekretarisnya seperti Zaid bin sabit dan lain-lain untuk langsung menulisnya baik di daun kurma, dikulit-kulit, dibatang-batang pohon dan lain-lain. Disisni artinya apa?, ayat Al Quran keontetikannya terjaga karena dari hafalan para sahabatnya, juga ternyata sudah ada yang tertulis.Kemudian Jika sudah dihafalkan para sahabat Rosul menuntun para sekretarisnya ayat ini diletakan disurat ini .lalu surat ini urutannya di nomor sekian, semua itu dilakukan sendiri oleh Rosul Saw, dari peristiwa tersebut  artinya apa ? karena rosul berbuat-tidak berbuat adalah Wahyu Allahi ( Al uran Berjalan dalam istilah Aisyah Ra) maka , tuntunan rosul kepada para sekretarisnya adalah juga tuntunan Illahi juga hanya me;lalui Mukhammad Saw. Kemudian pada bulan romadlon rosul betrtadarus dengan malakiat jibril hingga khatam ,artinya baik cara baca, model tulusan dan tata letak itu dikonfirmasikan dan dibawah control malaikat jibril..

 

Jadi, kodifikasi pada zaman Khalifah Abu Bakar ra itu pada dasarnya mengumpulkan tulisan-tulisan saja yang ada ditangan beberapa sahabat,dikulit,dipohn ditulang-tulang yang kemudian di bundel oleh para para sahabat dengan disaksikan oleh sahabat penghafal Al Quran dan bahkan ketua team kodifikasinya Justru Sekpri Rosul yakni Zaid bin Zabit.

 

Lalu terpikirkankah oleh kita apakah tata letak urutan surat itu tidak ada maksud Allah atau dengan kata terstruktur dan tersistemnya kodifikasi Al Quran hingga saat ini tidak mengandung hikmah, tidak mengandung Filosofi atau tidak ada manfaat dan makna terntu,  itu tidak mungkin karena Apalagi Al Quran Wahyu Allah ,semutpun dan bahkan bakteri dan racunn pun ternyatada memili ki makna, ada maksudnya, ada filosofi dan ada manfaatnya. ( Aku yang menurunkan Al; Kitab (Al Quran) dan Akulah sendiri Yang Menjaganya )  inilah salah wujud real kebenaran ayat tersebut, yang kemudian ditemukannya computer dan perekam-perekam canggih dan digital (hardisk, Flasdisk)  dewasa ini, itupun menunjukkan Allah masih dan akan senatiasa Aktif menjaga kitabnya AL Quran. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”QS.15:9

 

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (dari usaha orang-orang yang bermaksud mengubah atau memalsukan sebagian atau seluruhnya).” QS. Al Hijr:9

 

2. Pengertian Apa Itu MSFQ/HSQ ?

 

MSFQ/HSQ adalah singkatan dari, Metode Struktur dan Format Al Quran atau HSQ Al Quran di Ekslplor kandungan-kandungan Maknanya dari berbagai sudut potensi dan  kemampuan akal dan hati Manusia

 

Dengan kata lain MSFQ /HSQ adalah suatu metodelogi memahami Al Quran dari Sstruktur dan Format  (Tata Disain) Al Quran, Hiptesistersebut dimabil berdarkan Asumsi Al Quran itu terstruktur sebagaimana wujud sekarang yang kita kenal yakni Al Fatekhah Surat ke 1, An Nas Surat ke 114. Itu bisa diungkap maknanya jika kita menggunakan Numerik, dari metodelogi Numerik inilah akan terukurnya  format al Quran itu secara, tersistem secara ketat karena saling terkait, dari tersistem terkait inilah muncul pola yang tegas yang bilamana kita katagorikan dari salah cabang metodelogi ulumul qur’an disebut metode munasabah (ilmu korelasi ayat bil ayat,surat bil surat) atau bahasa mudahnya,  memahami Al Quran dengan Al Quran dalam mengungkap makna simbolik, Atau dengan metode HSQ/ MSFQ ini al hasil Ternyata AL Quran Bisa menjelaskan dirinya sendiri.

( Secara panjang panjang lebar dibahas secara menarik pada programTrainning HSQ- Profil bisa dikases http://www.msqspirit.com)

 

Dalam upaya pengungkapan dan eksplorasi makna simbolik inilah agar tidak liberal atau mengandalkan kebebasan otak manusia belaka  maka perlu metodelogi-metodelogi ulumul Quran disandingkankan dengan  teori matematika (numerik) dan juga dengan perspektif berbagai keilmiahan lain sebagi pendukung sekaligus sebagai pengontrol.

 

Kesimpulan MSFQ adalah HSQ adalah Salah satu bentuk study keilmuan / metodelogi dalam upaya memahami Al Quran secara  universal, Logik dan Komprehenship yang bersandarkan dengan metode kreatif / alternatif (ijtihadi).

 

Apkah benar Al Quran itu tersistem dan terstruktur, tersistem dan terstruktur beberarti tidak saling bertentengan akan tetapi saling melengkapi menjadi suatu bangunan yang kokoh,dan inilah salah satu mukjizat Al Quran daripada kitab-kitab agama lain, dalilnya bisa kita perhatikan maksa salah ayat sebagai berikut “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

QS. 4:82

 

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (dari usaha orang-orang yang bermaksud mengubah atau memalsukan sebagian atau seluruhnya).” QS. Al Hijr:9

 

3.Apa Perlu Metode MSFQ/ HSQ.

 

Jika kita perhatikan dinamica potensi keilmuan manusia yang terus berkembag dan saling menyempurnakan maka MSFQ//HSQ Itu penting karena coba kita simak tabel study komperatih berikut ini :

 

                                               

Al Quran Sebagai?

 

Metode Tafsir/Translate

 

 

Metode MSFQ/ HSQ

 

Mayoritas masyarakat muslim memosisikan Al Quran sebagai Bahan Bacaan

 

Al Quran adalah Blue print Alam manusia termasuk Manusia dan perdabannya  

Aktualisasinya membaca untuk dapat pahala

Al Quran perlu tidak hanya cukup dibaca akan tetapi perlu dikaji terus menerus untuk memecahkan masalah sebagai pedoman kehidupan atau terus perlu dieksplora Misi dan Visi yang terkandung didalamnya

 

Hasil Ekplorasinya Figih, Tarich dan Ajaran Moral

Hasil Eksplorasinya dalah Ilmiah dan Numerikal ,universal dan komprehenshiep. Outpunya

Yakni Ilmu –ilmu Psikologi ,Biologi,Fisika, Kimia, Kedokteran, Astronomi, Teknik Sipil   dan lain-lian

 

Disarankan Baca Al Quran Per rukuk atau Persurat

 

Khatamkan Al Quran Perjuz

 

 

Al Qur’an, dibacanya saja merupakan ‘ibadah. Jika difahami, dieksplor keilmuan dan  maknanya dan diamalkan dalam kehidupan, maka menjadi petunjuk yang menerangi menuju jalan yang benar, lurus dan mengantarkan pada kebahagiaan bagi yang mengamalkannya tersebut. “Seutama-utama ‘ibadah ummatku adalah membaca Al Qur’an,” Al Hadits. Al Qur’an diturunkan dengan dengan tujuan sebagai pedoman hidup / solusi permasalahn hidup bagi manusia artinya Al Quran sebagai Huda al Quran menyimpan segala jawaban berbagai peristiwa dan persoalan-persoalan kehidupan, akan terungkap jawabannya, tentunya jika menggunakan berbagi ilmu dan metode-metodelogi
“Alloh menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah (yang mau merenungi isi kandungan Al Qur’an dan Ad Sunnah) yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Alloh). ”QS. AlBaqoroh: 269.

 

4.Penutup/ Apa MSFQ Termasuk  Ululmul Quran ¿

 

Dari pembahsan singkat ini diharapkan dapat memberikan pengantar pada pemahaman bahwa MSFQ adalah metodelogi saja , jika perlu diperbaiki dan dan disempurnakan itu metodenya bukan Al Quraannya, Ulumul  Quran seperti takwil , asbabul nuzul itupun metodelogi untuk memahami Al qur’an , hasil dari ijtihat para ulama’ pada zamannya , jika bisa disepakati MSFQ / HSQ adalah metode baru berarti itu ijtihat juga , apa resikonya jika salah, jika benar dapat 2 pahala , jika salah dapat satu pahala,dapat dosa yang taglid buta .

 

Apa MSFO menggunakan salah satu  metode Ulmulmul Quran , Jelas MSFQ / HSQ memang menggunakan salah satu metode ulumul Qur’an dalam memahami Al Quran yakni metode Munasabah.  bahkan MSFQ/ HSQ komprenshiep karena semua ilmu dijadikan bahan dasar untuk mengekplor makna simbolik Al Quran.

 

Apa controlnya, MSFQ di kontrol dengan Ilmu-ilmu syariah dan juga Ilmu Pengetahuan, jadi Qontrol dilakukan oleh para Ulama dan sekaligus para  akademisi.

 

Jika Metode MSFQ / HSQ belum pernah ada di dalam istilah ulumul Quran, diadakan juga tidak dosa. Karena MSFQ pada dasarnya alat bantu  atau tool saja dalam memahami Al Quran dan sebagai pemerkaya  khasanah metodelogi-metode  dalam upaya memahami Al Quran, dengan kata MSFQ/ HSQ  bukan untuk menghilangkan metode yang sudah ada akan tetapi saling melengkapi dan menyempurnakan.Harapan dengan adanya penyempurnaan bersama atas metode MSFQ/HSQ ini,  Insya Allah akan berdampak positif guna membuka perdebatan kita lebih luas,  tidak hanya masalah figih dan historis ( meratapi sejarah dan menyalahkan peristiwa sejarah)   Ke khalifahan saja yang akhirnya justru semakin bertambahnya mahzab dan aliran –aliran didalam satu Tuhan, Satu Nabi , Satu Kitab dan padahal Satu Saudara (ukhuwah islamiyah). 

 

Semoga Allah meridhoi dan kita bisa merenung bersama bahwa begitu kaya samudra keilmuan Al Qura.Wabillahittufiq Wal hidayah Wassalamulakum wr wb. 

 

 

Apa Itu Psikologi Al Quran

April 11, 2008
Psikologi Al Quran
dalam suatu study comperatif Psikologi Barat
Terbatasnya pengetahuan para teoritikus kepribadian Barat tentang struktur internal manusia telah melahirkan banyak mazhab kepribadian. Kerangka keilmiahan telah membatasi mereka dalam proses analisis dan sintesis konsepsi kepribadian manusia seutuhnya. Carl Gustav Jung melakukan terobosan dalam membangun psikologi analitiknya, ia melibatkan data-data mitologi dan simbol-simbol agama ke dalam kerangka analisis ilmiahnya. Dalam alur ini, Kecerdasan Spiritual (SQ) dalam proses perumusannya tidak sekadar meninjau keparalelan antara produk saintifik Barat dengan fenomena mistik Timur, tapi tampak memaksakan melakukan interpretasi atas fenomena metafisik spiritual secara fisika dan sains neural, dan ini melahirkan sejumlah paradoks. Paper ini membahas tentang struktur internal manusia berdasarkan kerangka acuan Al-Qur’an, kemudian akan dilihat persoalan apa yang tersentuh oleh konsepsi individuasi Jung dan status SQ dalam peta ini.

 1. Pendahuluan

   Terumuskannya sejumlah teori kepribadian merupakan cermin dari upaya ilmiah manusia untuk memahami dirinya sendiri secara menyeluruh. Dewasa ini dikenal tiga teori utama yang satu dengan yang lainnya berbeda, yakni teori kepribadian Psikoanalisa (Freud), teori kepribadian Behaviorisme (Skinner), dan teori kepribadian Humanistik (Maslow)[1]. Istilah kepribadian (personality) memiliki banyak arti, ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian, dan pengukurannya. Di antara para psikolog belum ada kesepakatan tentang arti dan definisi “kepribadian”, sehingga banyaknya definisi kepribadian sebanyak ahli yang mencoba merumuskannya. Melihat asal katanya, personality itu sendiri berasal dari kata latin persona yang berarti topeng.

Setiap penggagas kepribadian mengajukan asumsi-asumsi dasar tertentu tentang manusia, yang kemudian hipotesis-hipotesis tersebut mempengaruhi konstruksi dan isi dari teori kepribadian yang disusunnya. Abraham Harold Maslow (1908-1970) memperlihatkan komitmen yang tinggi terhadap anggapan dasar tentang manusia sebagai makhluk bebas, sementara Sigmund Freud (1856-1939) dan Burrhus Frederic Skinner (1904-1990) sebagai penganut determinisme berlawanan dengan Maslow, mereka berasumsi bahwa manusia bukanlah makhluk yang bebas melainkan organisme yang tingkah lakunya dideterminasi oleh sejumlah determinan.

 

Freud menyatakan bahwa determinan manusia berasal dari dalam diri manusia itu sendiri (faktor internal), sementara Skinner menyatakan bahwa faktor-faktor penentu tersebut berasal dari stimulus-stimulus eksternal. Maslow berpendapat bahwa manusia itu makhluk rasional, sementara Freud berpegang pada anggapan dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang cenderung irasional, dimana sebagian besar dari tingkah laku manusia didorong oleh kekuatan-kekuatan irasional yang tidak disadari; Skinner dalam hal ini tidak begitu terikat pada hipotesis rasional-irasional.

Tentang motivasi, rumusan Freud bertumpu pada konsep homeostatis, yaitu suatu konsep yang diilhami oleh gagasan kesetimbangan (equilibrium) fisis Leibniz, ia menerangkan bahwa tingkah laku manusia terutama dimotivasi oleh upaya pengurangan tegangan-tegangan internal (memuncaknya energi naluri/insting dari id) yang terjadi akibat ketidakseimbangan fisis. Dalam hal ini Skinner berpendapat bahwa tingkah laku manusia tidak digerakkan oleh agen-agen internal yang disebut naluri, melainkan ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Freud dengan psikoanalisanya percaya bahwa misteri manusia akan bisa diungkap seluruhnya melalui upaya-upaya ilmiah, karena pada dasarnya tubuh manusia mengikuti hukum-hukum fisika; Skinner dan segenap behavioris memiliki anggapan yang sama dengan Freud. Berlawanan dengan pandangan di atas, Maslow sepaham dengan William James (1842-1910), seorang filsuf dan tokoh psikologi terkemuka Amerika, bahwa manusia tidak akan bisa diungkap sepenuhnya hanya melalui upaya-upaya ilmiah.

Pelibatan aspek ketaksadaran (unconsciousness) dalam psikoanalisa telah menarik minat Carl Gustav Jung (1875-1961) untuk bergabung dengan Freud. Mengikuti alur Freud, konstruksi dasar psikologi Jung juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan sains dan filsafat Abad ke-19, seperti teori Evolusi Darwin, temuan-temuan arkeologis, dan studi komparatif tentang masyarakat dari budaya-budaya yang berbeda. Tetapi kemudian terjadi pertentangan mendasar antara kedua tokoh besar tersebut. Jung menolak penekanan Freud yang meletakkan dorongan seksual manusia di atas kebutuhannya terhadap makanan, kehidupan spiritual, atau pengalaman-pengalaman religius tertentu. Dia juga tidak sependapat dengan pandangan mekanistik Freud tentang dunia; bagi Jung, karekter manusia tidak hanya dikondisikan oleh apa-apa yang telah terjadi di masa lampau, tapi juga dipengaruhi oleh visi-visi masa depan. Adapun Freud tidak setuju dengan konsepsi Jung tentang collective unconscious, teori ini bertumpu pada pandangan phylogenetic tentang pengalaman-pengalaman masa lampau dari ras manusia yang diwariskan secara individual melalui memory traces.

Teori kepribadian Freud dan Jung mencakup seluruh aspek sadar dan tak sadar dalam diri manusia, untuk membedakan teorinya dengan psikoanalisa Freud, maka Jung menamai teori kepribadiannya dengan istilah psikologi analitik. Individuasi (realisasi diri) merupakan inti ajaran Jung, berkaitan dengan pergeseran titik pusat kesadaran dari ego ke self, dimana gagasan ini dibangun Jung secara transpersonal berdasarkan studi atas simbol-simbol mitologis dan simbol-simbol religius agama Barat maupun Timur. Dengan data-data tersebut, Jung berupaya mencari hubungan antara isi ketaksadaran dalam diri manusia di Barat dengan mite-mite dan ritus-ritus manusia primitif.

Dalam teori Jung, ketika konstruk ego yang terbangun mulai menyadari eksisnya sesuatu selain dirinya yang bersifat irasional, terjadilah konflik batin. Meningkatnya “entropi” psikis di ruang sadar akan direspon oleh permukaan subconscious, dan terjadilah aliran energi psikis (libido), yang arahnya ditentukan oleh prinsip ekivalensi “termodinamika”. Respon dari ‘lautan’ ketaksadaran akan menampakkan diri di level sadar umumnya berbentuk simbol-simbol mandala, yang pada prinsipnya membawa pesan tentang arah dari tertib diri. Dalam praktek klinisnya, Jung melihat bahwa bagian tak-sadar bukan saja bersifat komplementasi (saling melengkapi), tetapi juga kompensasi (saling mengimbangi). Menurut Jung, proses individuasi ini disebabkan oleh potensi-potensi asli yang mengarah pada tujuan tertentu, menuju ke suatu keutuhan psikis yang lebih kokoh. Energi psikis yang terarah pada suatu tujuan tertentu yang bersifat “final” ini mirip dengan pandangan teleologi Aristoteles (384-322 SM), dimana ia menggunakan istilah entelecheia (en=dalam diri manusia; telos=tujuan; echein=memiliki) yang berarti: di dalam diri sendiri terdapat sesuatu yang harus dicapai[2].

Dalam proses individuasi Jung, yang dititikberatkan bukanlah ego melainkan self. Jika Jung menggunakan data-data kejiwaan dalam banyak agama, maka apa hakikat sebenarnya dari ego dan self ini dipandang dari konsepsi batiniah agama seutuhnya? Apa status menjadi pribadi seutuhnya atau menjadi diri sendiri tersebut dipandang dari kerangka agama itu sendiri? 

2. Struktur Insan Dalam Pandangan Qur’aniyah

    Peta kejiwaan dan mekanisme interaksi antar modus-modus jiwa, dalam kerangka psikologi yang dibangun secara ilmiah, tampak tidak jelas dan banyak menyisakan lubang-lubang di sana sini. Dalam literatur barat sendiri penggunaan istilah-istilah seperti soul, spirit, heart, mind, dan intellect sering campur aduk ketika mengidentifikasi persoalan-persoalan yang bersentuhan dengan konsepsi kejiwaan.

Istilah psycho sendiri yang dipakai dalam konstruk kata psikologi (psychology) berasal dari kata Yunani psyché (Ynch) yang artinya “nafas kehidupan”, dalam mitologi Yunani digambarkan sebagai kupu-kupu. Dalam hal ini, kupu-kupu merupakan perlambang jiwa yang bebas terbang setelah menempa diri dengan “puasa”, keluar dari bungkus kepompongnya. Dua sayap kupu-kupu yang membawa dirinya terbang meninggalkan “bumi” melambangkan dua akal, akal jiwa dan akal raga; dua akal tersebut eksis secara potensial di dalam tubuhnya saat ia sebagai “ulat”, persoalan yang sama dalam representasi yang berbeda bisa dikaji dalam “Alegori Gua” Plato (428-347 SM)[3].

Dalam konsepsi pramodern, manusia dibagi atas tiga entitas, corpus, animus, dan spiritus[3]. Animus berasal dari bahasa Yunani anemos yang bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus). Maka corpus adalah body (raga/jasad); dan spiritus adalah spirit (ruh); dan animus identik dengan psyche yang bermakna soul (jiwa/nafs). Dewasa ini istilah jiwa yang dipakai dalam psikologi telah mengalami penyempitan makna. Jiwa dalam terminologi psikologi modern lebih ke aspek psikis, dimana aspek psikis ini lebih merupakan riak gelombang permukaan di atas lautan dalam yang disebut jiwa. Fungsi ruh terhadap jiwa dan fungsi ruh terhadap jasad bisa dilihat dalam referensi[4].

Dalam terminologi Qur’aniyah, struktur manusia dirancang sesuai dengan tujuan penciptaan itu sendiri, dimana jiwa (soul) yang dalam istilah Al-Quran disebut nafs menjadi target pendidikan Ilahi. Istilah nafs didalam Islam sering dikacaukan dengan apa yang dalam bahasa Indonesia disebut hawa nafsu, padahal istilah hawa dalam konteks Qur’ani memiliki wujud dan hakekat tersendiri. Aspek hawa dalam diri manusia berpasangan dengan apa yang disebut sebagai syahwat. Sedangkan apa yang dimaksud dengan an-nafs amara bissu’ dalam surat (Yusuf [12]: 53) adalah nafs (jiwa) yang belum dirahmati Allah SWT:

“Dan aku tidak membebaskan nafsku, sesungguhnya nafs itu cenderung mengarah kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati oleh Rabb-ku.”

Hawa merupakan kecenderungan kepada yang lebih bersifat non-material, yang berkaitan dengan eksistensi dan harga diri, persoalan-persoalan yang wujudnya lebih abstrak. Hawa merupakan entitas, produk persentuhan antara nafs dan jasad. Sedangkan syahwat merupakan kecenderungan manusia pada aspek-aspek material (AliImran [3]: 14), dan ini bersumber pada jasad insan yang wujudnya memang disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api).

Nafs manusia diuji bolak-balik di antara dua kutub, kutub jasmaniah yang berpusat di jasad dan kutub ruhaniyah yang berpusat di Ruh al-Quds. Ar-Ruh ini beserta tiupan dayanya (nafakh ruh) merupakan wujud yang nisbatnya ke Martabat Ilahi dan mengikuti hukum-hukum alam Jabarut. Aspek ruh ini (jamak arwah) tetap suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material dan dosa, spektrum ruh merupakan sumber dari segala yang maujud di alam syahadah ini—maka tak ada istilah tazkiyyatur-ruhiyyah atau mi’raj ruhani.

Al-Ghazali dalam Kitab Ajaaibul Qulub[5] jelas membedakan istilah-istilah seperti qalb (rasa jiwa, bukan rasa jasadiah/psikis), nafs, ruh, dan ‘aql; dimana istilah-istilah ini dalam konsepsi psikologi modern tak terpetakan dengan tegas karena berada pada tataran jiwa yang bersifat malakut, atau secara psikologi analitik berada di ruang ketaksadaran.

Prinsipnya, apa yang disebut sebagai manusia sempurna (insan kamil) dalam terminologi Al-Qur’an, minimal manusia yang sudah memiliki struktur seperti tercantum dalam An-Nur [24]: 35, seorang Insan Ilahi. Manusia dikatakan sebagai khalifatullah (wakil Allah) di bumi jika ia telah mencapai state tersebut, ia membawa kuasa Allah dan bercitra Ar-Rahman.

“Allah cahaya petala langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya bagaikan sebuah misykat yang didalamnya terdapat pelita terang. Pelita tersebut di dalam kaca, kaca itu seolah kaukab yang berkilau dinyalakan oleh (minyak) dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walau tanpa disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa-siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (disarikan dari artikel Struktur Insan dalam Al-Qur’an : Apa yang Tersentuh Oleh Psikologi Analitik, dan Status Kecerdasan Spiritual (SQ)

Posted by Herry @ 16:35 | in Pengetahuan Islam Dasar, Jurnal | e-mail this article | + to del.icio.us Oleh Zamzam A. Jamaluddin T dan Tri Boedi Hermawan, Yayasan Paramartha

3. Bagaimna Psikologi Al Quran dari Perpektif  MSFQ

   Mendifinisikan kembali secara bebas apa itu psikologi , psikologi pada intinya ilmu yang berobye-kan tentang manusia dan kepribadian (behavior), jika ruang lingkup obyek psikologi tersebut disepakati, kama didifinikan bahwa psikologi Al Quran adaldari Aspek MSFQ adalah memetakan  kepribadian  (mapping code)  berdasarkan variable didalam suatu juz.bilmana didekati dengan ilmu numeric

Variable al Quran adalah huruf, kumpulannya menjadi ayat, ,kumpulan ayat menjadi surat, kumpulan surat menjadi rukuk, kumpulan rukuk menjadi suatu juz.disinilah letak yang dijadikan dasar untuk memetakan kepribadian seseorang, asumsi tersebut dengan berdasarkan hipotesis

1).Dari 30 Juz yang terdapat di Al Quran  ternyta antara satu juz dengan juz yang lain pasti ada perbedaan dan bahkan perbedaan unik sepertinya juz yang satu dengan juz yang lain pasti beda nomor halaman, beda kandungan jumlah ayat, beda makna yang di kandung dan beda-beda jumlah surat dan lain-lain.

2.)Kata “ Al Juz.u “ jika diurai berjumlah 76 , jika angka tersebut dikorelasikan kepada nomor urut surat Al Quran akan ketemu nama surat al insane artinya manusia

3).Esensi Al Quan adalah tertdiri ayat,surat dan juz , tiga komponen itulah makna al quran bisa diterjemahkan makna kandungan yang diejarkan, karena ayatlah seseorang dapat memahami perintah atau larangan tuhan, begitu juz. Dari aspek difinisi ayat adalah aturan/isyarat /gejala/norma, surat banyak mengisyaratkan fenomena alam seperti asyam (matahari), al qomar bulan dan attien manusia. Jika ayat diartikan suatu system/aturan dan surat adalah fenomen atau obyek ,maka bilamana sudah ada system, obyek maka mana subyeknya, subyeknya itulah juz lalu apa korelasi juz dari aspek numeric jika dikorelasikan dengan nomor urut surat.

4).Diantara 114 surat yang terkandung didalam Al Quran ternyata jika dikelompokkan dalam tema-tema ternyata menggambarkan fitriati /kepribadian dan tentang sifat-sifat manusia seperti . dengan kata lain tema-tema surat-surat Al Qoran dipandang dari perpektif Psikologi akan menghasilan)

– Tema Laki-laki dan perempuan ( Al imron dan An Nissa)

– Tema hidup dan hidup -/ tema Kehancuran ( Al Waqiah dan Al Qoriah)

–  Teima (positif/eksistensi ) dan Tema Kemunafikan (Al Mukminun/Munafiqun)

– Tema Kosmis (Obsesi) dari Assyam, An Najm dll

(Bukankah semua tema-tema itu adalah sifat-sifat yang pasti ada pada tiap diri manusia)

5). Semua Variabel Al Quran jika kita kupas habis selalu pada merujuk pada manusia atau dengan kata lain juz adalah konsepsi kepribadian sesorang ini bisa kita urai dari semua variable al Quran , yang kemudian semua variable itu di tafsirkan makna simboliknya dari perpektif psikologi , seperti huruf dengan metode perubahan huruf (akan diuraikan terpisah) , sebagi contoh makna simbolik surat Al Quran An naml (semut) bagaimana sudut pandang psikologi mengurai carakter semut (semut di inteprestasikan mahlug social dan ulet) , dengan demikian bilamana didalam sutau juz ada surat an naml maka berdasarkan hasil peneletian membuktikan seseorang yang berjuz tersebut memiliki indikasi-indikasi ulet dan suka bersosial (nanti kita akan ambil sample apa benar konsepsi  juz mengurai kepribadian seseorang )

Dari Asumsi /teori diatas dapat didifinisikan secara mudah bahwa psikologi Al Quran yang merupakan salah satu aplikasi kelimuan dari hasil kajian MSFQ adalah makna yang terkandung dalam suatu konsepsi Juz diinteprestasikan dari sudut perspektif Psikologi.

4. Metodelogi

Dalam mengurai /memapping kepribadian seseorang dari sudut pandang konsepsi juz adalah

1.       Mengidentifikasi keunikan perbedaan PQ. SQ, MQ (Emotion) , dan PQ (kelemahan dan potensi anatomi ) hal ini sejalan dengan  konsepsi psikologi Dalam terminologi Qur’aniyah, struktur yang dianut oleh filosof-filosof psikologi islam sebagaiaman diurai diatas

2.       Untuk mendapatkan keunikan perbedaan sebagaiaman poin diatas (mapping) digunakan quisioner,  selayaknya tes psikologi konvensional. Pertanyaan-pertanyaan kuisioner dirancang sedemikan rupa untuk dapat memapping / memotret perbedaan unik emapat komponen tersebut antara orang yang satu dengan orang yang lainnya.

3.       Langkah beriukutnya adalah mengokfirmasikan keunikan-keunikan kepribadian responden, bilamana keunikan itu mayoritas dinyatakan benar, maka psikolog al Quran dapat meninimalisir perbedaan yang semula ada 30 juz tinggal pada 3 tingkat akurasi atau sebaliknya yakni tingkat kesalahan dan

4.       Untuk dapat mengkofirmasikan kepribadian dari 3 code / juz tersebut maka dimapping kembali dari 3 code/ juz keunikan – keunikan kepribadian dengan variable-varibel 4 komponen PQ,IQ, SQ dan MQ yang paling banyak mewakili kepribadian seseorang bersangkutan.

5.       Untuk dapat memberikan penilaian apakah seseorang termasuk pada code/ juz tertentu maka kita uraikan semua potret jati diri (evaluasi dir) bilamana yang bersangkutan membenarkan bahwa kepribadiannya 70 % terwakili. Maka kita rekomandasikan sementara seseorang termasuk pada code tertentu.

Hasil dari penelitian yang telah kami laksanakan untuk 449 responden yang berasal dari berbagai kota dan dari  berbagai kalangan profesi seperti karyawan,pengusaha,guru,dosen dokter  dan mahasiswa, juga dari berbagai latar belakang pendididkan dari tingkat SD sampai S3 ternta yang menyatakan 80-90% = 79%, score 90-99= 11 % . Lainya dibawah 70-60. Artiya dari uji statistic diatas jika asosiasikan ke nilai akademi minimal nilainya B atau A.

6. Uji Akurasi terakhir  adalah bilmana seseorang sudah direkomandasikan termasuk juz/code tertentu dan kemudian yang bersangkutan membaca Al Quran pada Juz tersebut  ternyta ada reaksi itulah yang paling benar, artinya ternyata kemutlakan ilmu manusia masih dibawah ketentuan tuhan juga, seperti kata dokter :  bahwa secara medis mestinya pasien tidak akan bertahan lama,  tapi kata sang dokter kembali, namun semuanya kami dokter tidak berani mendahului takdir tuhan.

7. Persamaan dan Perbedaan Out put yang dihasilkan Psikologi Al Quran

   dan Psikologi Konvensional

1) Kesamaan

  • Sama – sama menggunakan metodelogi untuk melihat indikasi –indikasi mapping /memotret tipe/ kepribadian seseorang
  • sama-sama bertujuan Evaluasi diri
  • Keunggulan Psikologi Al Quran dari konvensional
  • 2) .Perbedaan

a).Psikologi Al Quran tidak bersifat menjustifikasi mutlak karena dalam teori psikologi Al Quran mengisyaratkan lampaui Juz mu dengan membaca Al Quran atau istilah kami adalah recharge dirimu dengan membaca Juz Al Quran bersangkutan agar terecovery kembali pada fitrah.

b). Kecepatan dan Akurasi hasil mapping,  penelitin membuktikan lebih unggul psikologi Al Quran

c). Psikologi Al Quran dapat mengurai /memotret kepribadian seseorang lebih universal ( IQ, PQ, SQ, EQ,) bukan hanya kecenderungan tingkah laku saja,  sebagimana yang dihasilkan dari hasil uji tes pskologi konvensional.

5. Kesimpulan/ penutup

Dari uraian-uraian diatas maka disimpulkan bahwa psikologi Al Quran memenuhi persyratan ilmiah karena psikologi al Quran memiliki dasar teori/ hipotesis , metodelogi , kesimpulan /out put dan terakhir manfaat. Bilamana kesimpulan ini sementara disepakati dan untuk mempertegas dan mendetailkan keilmiahannya maka perlu mendapat kajian dari akademisi, sehingga diharapkan masa mendatang dapat dijadikan mata kuliah tersendiri dan tentunya sebagi alternatif bilamana  alira-aliran psikologi barat sendiri yang diajarkan untuk seluruh Perguruan tinggi di Indonesia masih menjadi perdebatan nilai –nilai fitriati kemanusiaannya,   dari sudut Al Quran memandang manusia sebagai yang membawa misi keilhaian / wakil Tuhan dan juga memiliki potensi yang hakiki yakni spiritual.kesimpulan terkahir bahwa psikologi konvensional maupun psikologi Al Quran adalah sebuah metode keilmuan yang tentunyanya sah-sah saja untuk terus-meterus dijadikan kajian.

Bandung 10 Februari 2008

 

 

Www.Gusiful@yahoo.com

 

Al-Quran Centre

April 11, 2008

Al Quran Center

 

 

 

Bismillahirohmanirrohiem

 

Ide dasar Web ini adalah bermula untuk mengolektif hasil kajian dan metodelogi keilmuan untuk memahami Al-Quran

 

Ide dasar web ini kami anggap perlu karena dilatar belakangi dinamisnya potensi kreaitif manusia dalam upaya mencintai,mengkaji dan menemukan metode –metode terobosan inovasi dan kraetif yang kesemuanya dalam upaya memahami Al Quran, hal ini juga sejalan dengan semangat yang telah dijanjikan Al Quran sendiri, bahwa kandungan keilmuan Al-Quran tidak hanya seluas samudra yang tidak akan pernah kering, karena Al-Quran adalah ilmu Allah dan Allah akan senantaisa  menjaga dan memeliharanya /mengupadate sepanjang zaman. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”QS.15:9

 

Berpuluh-puluh dan berbagai macam study dan variasinya ilmu tafsir Al-Quran sejak zaman Nabi SAW sampai sampai saat ini  terus  tumbuh dan berkembang model  metodelogi –metodelogi untuk  memahami Al-Quran,

 

Web inilah merupakan media untuk mempertmukan, atau sebagai forum diskusi dan ajang sharing baik dari perspektif  akademisi dan fuqoha sehingga  karya cipta akan bermanfaat dan tidak hilang begitu saja karena debat yang tidak berkesudahan.

 

Sebagai bahan diskusi pendahuluan, kami perkenalkan metodelogi MSFQ/HsQ yakni metodelogi kreatif /ijtihadi dalam memahami Al-Quran dengan kerangka pikir numeric dalam mengungkap mukjizat/ keajaiban sistematica mushaf Al-Quran,  al hasil /outputnya ternyata Al-Quran dapat menjelaskan dirinya sendiri jika didekati dengan operasional matematis. (selanjutnya dapat di buka pada menu apa itu MSFQ/HsQ)

 

Salah satu Apilkasi dari hasil kajian khasanah keimuan Al Quran melalui metodelogi MSFQ /HsQ adalah psikologi Al-Quran yakni apilkasi keilmuan yang dapat untuk Mapping dan  mendiskripsikan karakter seseorang (bedah carakter/ eksplorasi code/),  

Yang mana dalam perkembangannya, diplikasikan dalam program trainning dan konsultasi Solusi Psikolgi. Silahkan buka www.msqspirit.com dan Email  ke gusiful@yahoo.com atau telpon 02276061708

 

Program Trainning Psikologi Al Quran based, dirancang special real  berkenaan pelejitan (Recharge)  potensi sumber daya insani (Recode dan Recovery).didukung  teknologi multimedia, Model-model Trainning sebagai berikut :

  1. Trainning Motivasi & Penelusuran (Mapping) Bakat dan Minat Potensi Euntrepener dari Perspektif Psikologi Al. Quran based
  2. Trainning Penelusuran (Mapping) minat dan Bakat Study dari Perspektif  Psikologi Al- Quran Based
  3. Trainning Penelusuran (Mapping) Minat dan Bakat Potensi Profesi dari Perspektif  Psikologi Al- Quran Based

 

  1. Trainning Managemen “ The Righat man On The Righat Place /Job dari Perspektif  Psikologi Al Quran Based
  2. Traininng Manajgeman & Strategi Komunikasi dalam membentuk Keluarga Sakinah dari Perspektif Psikologi Al. Quran based

 

Juga Layanan Konsultasi Solusi dan Teraphi masalah psikologi ( Autis, Hiperaktif dan dis-orientasi seksual) 

 

Dua (2) unggulan Implementasi Psikologi Al- Quran dari Psikologi Konvensional, pertama hasil penelitian uji statistic  ( berdasarkan data 449 responden) membuktikan :

a.      Tingkat kecepatan,  akurasi dan bahkan lebih  universal dalam mendiskripsikan/bedah carakter /behavior seseorang karena tidak hanya mendiskripsikan tingkah laku saja akan tetapi juga mendiskripsikan / mengurai rinci potensi IQ, PQ, EQ dan EQ)

b.       Psikologi Al Quran tidak hanya mapping code /karakter saja akan tetapi berfungsi untuk  Mapping –> Code –> Recode –> Recharge –> Rrecovery, sekaligus solusi masalah psikologi dan perubahan diri untuk berani dan mampu melejitkan potensi dasar, lebih lengkap bisa anda buka www.psikologialQuran.co.nr & http://www.gusiful co.nr

Artikel/tulisan  saudara berkenaan dengan metodelogi eksplorasi keilmuan Al Quran, komentar dan share bisa disimpan pada (menu forum), anda ingin tahu insitusi dan alamat pusdiklat /centre study al Quran (buka menu pusdiklat), anda ingin mengkolek refrensi (buku dan kitab-kitab klasik) berkaitan dengan kajian HsQ dan Psikologi Al-Quran silahkan buka menu (Galeri Buku) ingin kenal gusiful dan mediaotor web ini silahkan ke menu (profile)

 

Wabillahitaufiq wal hidaya,